Re-use, Re-cycle dan Recovery

PRINSIP 3 R SEJALAN DENGAN HUKUM ALAM

Sudah menjadi suatu ketetapan Tuhan bahwa bumi dan seisinya diciptakan olehNya untuk memenuhi kebutuhan manusia, dan manusia memegang peranan yang cukup penting sehingga keberadaan umat manusia di alam ini mempunyai tujuan yang jelas. Semua kita sepakat bahwasanya kita harus memakmurkan bumi dan seisinya demi kehidupan manusia sendiri dan kita tidak diperbolehkan untuk membuat kerusakan di muka bumi.

Menilik kebelakang akan pembentukan salah satu unsur yang sangat penting di alam ini adalah oksigen atau zat asam arang (O2). Bumi pada saat awalnya belum mempunyai oksigen yang cukup dalam bentuk fasa gas di udara bebas (ambien) sehingga belum mampu untuk menopang kehidupan seperti sekarang lalu pertanyaannya dari mana oksigen dari udara ambien berasal sehingga dapat cukup untuk menopang makhluk yang ada di alam ini?

Pertimbangkan atmosphir, atmosphir kita terdiri dari 21% oksigen. pada saat awal usia bumi oksigen yang ada sebagian besar terperangkap di samudra atau lautan, atau di bebatuan dan juga tanah. Lambat laun sampai jutaan tahun tanaman mengeluarkan oksigen ke dalam udara semakin besar seiring dengan berjalannya waktu sehingga membuat peluang hidup untuk hewan.

Dari salah satu contoh di atas terllihat bahwa keberadaan suatu makluk baik itu tanaman, binatang, manusia, unsur kimia hidrogen, senyawa kimia air dll mempunyai tujuan yang jelas dalam menopang roda perputaran kehidupan bumi secara keseluruhan.

Yang menjadi pertanyaan kedua adalah apakah jumlah meteri yang ada di alam ini termasuk oksigen, air dll jumlahnya tetap (mohon diingat !! JUMLAH MASSA BUKAN VOLUME) ? jawabnya adalah YA. Jumlah massanya relatif tetap.

Ambil sebuah gelas dan isi dengan air putih, amati dan amati terus lalu tebak pertanyaan di bawah ini:

BERAPA UMUR DARI AIR YANG ADA DI GELAS TERSEBUT?

Air yang ada di gelas tersebut mungkin hasil presipitasi dari langit sebagai hujan baru seminggu yang lalu tetapi yang jelas air tersebut berumur sepanjang bumi ini ada.

Ketika ikan mulai ada di alam dan berenang di lautan, air dari gelas anda merupakan bagian dari laut tersebut, ketika seekor Brontosaurus (salah satu jenis hewan golongan Dinosaurus) sedang berendam di danau mungkin air dalam gelas anda bagian dari air yang ada di danau tersebut, ketika seorang raja minum segelas air, dari sebuah sumur maka mungkin air dari gelas anda bagian dari sumur tersebut……………..

Prinsip Re-use, Re-cycle dan Recovery dalam suatu siklus material.

Bumi menyediakan kita dengan elemen elemen dasar yang dapat kita jadikan menyusun material yang sangat bervariasi, bahkan jumlahnya dari tahun ke tahun semakin bertambah. namun hal ini perlu diingat bahwa jumlah massanya adalah relatif konstan. Beberapa elemen dasar tersebut ada yang berbentuk padat dan siap untuk digunakan seperti emas, ada juga dalam bentuk gas, ataupun liquid. Juga, sebagian elemen itu terperperangkap di lautan, perut bumi ataupun atmosphir.

Seringkali kita perlu melakukan kegiatan menambang untuk memperoleh material tertentu, Alumunium (Al) misalnya adalah suatu jenis metal yang sangat banyak dijumpai di alam dimana hampir 15% kulit bumi mengandung Alumunium. Akan tetapi ketika itu diekstraksi dari perut bumi, alumunium masih terikat dengan oksigen membentuk Alumina (Al2O3) atau sering disebut BAUXITE. Kegiatan pemisahan untuk mendampatkan Alumunium murni dari biji bauxite memerlukan energi yang sangat besar. Dan jika melakukan kegiatan Recycle scrap alumunium maka akan dihemat energi sampai 95%.

Dalam management pengelolaan limbah dikenal hirarki limbah sebagai berikut reduce à reuse à recycle à recovery à treatment à dispose (landfill). Sehingga tindakan mengolah limbah dengan cara landfill adalah merupakan hirarki terakhir, sebenarnya adalah tindakan yang sangat tidak popular (tidak diinginkan).

Siklus Material

Sebelum membicarakan tentang siklus material maka perlu terlebih dahulu mengetahui proses synthesis dari suatu material. Synthesis proses adalah proses menstransformasikan gas, liquid dan solid dengan melibatkan proses kimia dan fisika sehingga atom dan molekul dikombinasikan membentuk material lainnya baik padat gas ataupun solid. Ambil contoh, synthesis polimer dari material seperti batubara, minyak bumi, air dan udara akan menghasilkan nylon atau produk-produk lainnya.

Siklus material dimulai dari ekstraksi material yang berasal dari limbah yang dikuti dengan proses pembuatan bahan baku secara menyeluruh kemudian dilakukan sintesa proses sehingga membentuk material yang siap di pabrikasi sehingga membentuk produk jadi yang siap dipasarkan ke konsumen. Setelah selesai digunakan oleh konsumen maka biasanya produk tersebut menjadi limbah yang siap untuk dilakukan proses ekstraksi kembali – siklus dimulai kembali. Hal ini seperti yang telah diajarkan oleh alam kepada kita tentang siklus suatu materi.

Setiap satu ton dari besi baja yang di recycle akan dihemat 0.75 ton batubara, 65 kg limestone dan 1,3 ton biji besi.

Di Amerika Serikat rata rata satu pabrik besi baja dapat menghemat energi setara dengan keperluan energi yang digunakan oleh 18 juta penduduk Amerika Serikat hal dikarenakan mereka mengedepankan bahan recycle.

Suatu limbah jika telah ditimbun maka biasanya akan dibiarkan sekian lama puluhan bahkan ratusan tahun, sementara semakin mudah terdegradasi limbah tersebut maka semakin baik dari sisi lingkungan. Bahkan terdapat suatu laporan

(sumber: http://www.ci.houston.tx.us/department/solid/basic.htm) yang menyebutkan bahwa

Landfill excavations have discovered 35-year-old newspapers you can still read. Even after twenty years, one-third to one-half of organic waste is still intact. (Organic waste is garbage like food waste and grass clipping).”

Dari pernyataan di atas terlihat bahwa limbah organik yang seharusnya dalam kurun waktu yang realtif cepat dapat terdegradasi, dikarenakan sesuatu hal (misalnya system landfilling yang kurang baik, pemeliharaannya yang tidak teratur dll) sampai kurun waktu yang relatif lama belum juga dapat terdegradasi 100%, kejadian seperti di atas ternyata terjadi.

Perjalanan pengalaman Jepang dalam mengelola limbahnya adalah suatu hal yang perlu kita simak. Jepang dapat menurunkan jumlah limbah yang dibuang ke landfill dari 110 juta ton pada tahun 1985, setelah 10 tahun (2005) dapat diturunkan menjadi 50%, sehingga jumlahnya menjadi hanya +/- 50 juta ton. Dan yang perlu diketahui bahwa jumlah tersebut hanya 2.4 % dari jumlah total limbah yang dihasilkan di Jepang. Jepang juga merencanakan pada tahun 2010 jumlah limbah yang pergi ke landfill hanya 1,8%. (selengkpanya lihat tabel di bawah)

Sehingga meminimumkan jumlah limbah yang dibawa ke landfill untuk ditimbun merupakan suatu tindakan penghematan sumber daya secara tidak langsung dan juga sekaligus mengurangi jumlah limbah untuk menghasilkan produk yang sejenis dibandingkan produks tersebut dimulai dari awal sintesa proses.

GAMBARAN

LIMBAH YANG DIKELOLA DI JEPANG

(Dalam Juta Ton)

METODOLOGI PENGELOLAAN

Dikelola sbg landfill

Dikelola non landfill

Jumlah Limbah

Recycle

212

Dibuang ke alam

(dgn batasan baku mutu)

83

Reduksi

237

Landfill

50

TOTAL JUMLAH LIMBAH =

582

Target penurunan jumlah limbah yang di landfill adalah 1.8% dari total jumlah limbah (th 2010)

Sumber: http://www2.minambiente.it/Sito/settori_azione/pia/docs/ce_3R_03_10_05/presentazioni/okuma_1.pdf

Hal yang sungguh menarik adalah beberapa pengembangan yang sedang dilakukan di Amerika Serikat dan Australia yang diambil dari cuplikan artikel dari sumber sumber tertentu, sbb:

  1. Gas Hidrogen (H2) dan sampah kulit telur (sumber: Neil Gross, Bussines Week, November, 28,2007)

Setiap tahun warga AS mengonsumsi puluhan milyar butir telur. Ternyata dari kulit telur para peneliti dapat membuktikan bahwa gas hydrogen dapat diproduksi dengan bantuan zat yang ada di dalam kulit telur. Gas hydrogen banyak digunakan di kilang minyak dan kelak dapat juga sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan karena akan menghasilkan H2O (uap air) jika dibakar. Secara sederhana dapat dijabarkan sbb:

“Komposisi utama penyusun kulit telur adalah kalsium karbonat yang wujudnya bisa dikonversi menjadi kapur perekat. Ketika larutan gas dari arang bereaksi dengan uap, kulit telur yang kini berwujud kapur perekat menyaring CO2 sehingga yang tertinggal sebagian besar adalah H2. Komposisi kulit telur adalah salah satu pengikat CO2 yang paling efisien dari semua bahan yang diteliti.”

  1. Produksi “green steel” – produksi besi baja dari sampah plastik.

(sumber: Louise Williams, Making “green steel” a reality, Jakarta Post, November 13, 2007)

Sampah plastik yang kadang berwujud dari berbagai jenis, telah dibuktikan mampu sebagai bahan pengganti bahan baku di proses pembuatan besi baja. Pertanyaan simpel yang muncul adalah bagaimana hal ini dapat terjadi? Jawaban secara scientificnya juga relatif simpel karena di dalam fasilitas arc furnace yang ada di pabrik besi baja perlu ditambahkan batubara (bisanya jenis anthracite) untuk mendorong terjadinya reaksi karbon pada temperatur tinggi. Batubara ini dapat digantikan dengan sampah plastik. Hal ini telah dilakukan di Australia (pabrik besi baja “onesteel” Australia – sebagai salah satu pemegang lisensi ini yang bekerja sama dengan UNSW – Universitas New South Wales). Dalam proses ini dapat di hemat energy sebesar 11.1 kWh per ton produk besi baja, dan emisi nya juga relative lebih bersih.

Pelajaran yang kita ambil dari 2 (dua) cuplikan artikel di atas adalah dua duanya mempunyai misi yang sama yaitu ingin mewujudkan limbah sebagai suatu sumber daya, sehingga menghindari keberadaan suatu materi yang ada di alam ini menjadi sia sia. Seperti di prakata di awal tulisan ini bahwa Bumi dan seisinya diciptakan untuk keperluan manusia, dan manusia dikasih oleh Tuhan YME akal, yang akan bertindak mengolah bumi seisinya, sehingga tidak ada yang sia sia apa yang telah diciptakan olehNya.

Konferensi 3R ke II

Konferensi 3R dibuka oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup Jepang Mr. Yoshio Tamura, yang menyampaikan posisi Jepang sebagai 3R initiative dan saat ini pemerintah Jepang sedang dalam tahap pembahasan “Fundamental Plan for Establishing a sound Material- Cycle Society”di Kabinet, dan saat ini telah mendapat dukungan dari Menteri-Menteri Lingkungan Hidup Asia Pasific guna menggalang kerjasama regional dalam program 3R baik melalui dialog pengembangan kebijakan, membangun kesamaan visi guna mewujudkan masyarakat yang peduli 3R, serta melalui pemberian bantuan dalam penyusunan Strategi Nasional 3R di Asia Tenggara dan pengembangan “3R Knowledge Hub”.

Konverensi dihadiri oleh :

  • 17 negara Asia (Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Cambodia, China, Indonesia, Japan, Lao PDR, Malaysia, Maldives, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Philippines, Republic of Korea, Singapore, Sri Lanka, Thailand, and Vietnam),
  • Negara anggota G8 (Prancis, Jerman, Italy, Inggris (UK), Unaited States of America, dan European Commission),
  • Australia
  • Organisasi International (Asian Development Bank (ADB), Asian Institute of Technology (AIT), Secretariat of Basel Convention (SBC), United Nation Center for Regional Development (UNCRD), dan United Nation Environment Programme (UNEP) and United Nation Economic and Social Commission for Asia and Pacific (UNESCAP)

Dalam konverensi ini dibahas beberapa hal yang berkaitan dengan masalah 3R secara global, serta policy dan pelaksanaannya dimasing-masing negara peserta. Secara garis besar embahasan dibagi dalam 3 sesi yaitu :

  1. Development of 3R policies and increases in Resource Productivity
  2. Capacity development to support the 3Rs through partnership with various actors
  3. Collaboration towards Sustainable International Resource Circulation

Terkait dengan posisi Indonesia dalam 3R, pada konferensi tersebut telah disampaikan, bahwa :

1. Terkait dengan peraturan Nasional yang ada yaitu UU.23/1997 pasal 21 bahwa Berdasarkan UU No. 23 / 1997 pasal 21 tentang larangan impor limbah B3 (“Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan berbahaya dan beracun”), termasuk limbah electronic.

2. KLH sedang menyusun rencana aksi Nasional penerapan 3R di Indonesia bekerjasama dengan UNCRD

Limbah sebagai Bahan Baku dan Alternatif Bahan Bakar pada Industri Semen

Pada saat ini beberapa pabrik semen di Indonesia telah dan sedang memanfaatkan cangkang (kernel shell) dari kelapa sawit sebagai alternatif fuel. Sedangkan di Eropa alternatif fuel yang banyak dimanfaatkan adalah ban bekas dan limbah sludge domestik. Limbah padat yang bisa dimanfaatkan sebagai alternatif fuel lainnya antara lain: sludge (paper fiber, WWT sewage), packaging waste, carbon fly ash, bottom ash, paint residue, waste plastics, dan biomas seperti: rice husk, palm kernel shell, wastewood, baggase, waste paper, dan waste rubber. Sedangkan limbah cair yang dapat dipergunakan sebagai alternatif fuel anatara lain: waste oil & oiled water, sludge oil, slope oil & recovery oil, solvents dll.

Unsur-unsur kimia yang sangat diperlukan dalam pembuatan semen adalah Silicon (Si), Calcium (Ca), Besi (Fe), Alumunium (Al) dan Sulfur (S). Unsur unsur kimia yang diperlukan tersebut dapat diperoleh dari bahan baku utama proses produksi pabrik semen yang terdiri dari batu kapur, tanah liat, pasir silika, dan pasir besi serta bahan penolong berupa gypsum. Beberapa limbah industri dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan baku pembuatan semen. Limbah tersebut bisa dimasukkan pada proses raw mill atau pada proses cement mill. Beberapa limbah yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif pada industri semen antara lain terlihat pada tabel dibawah ini.

Bahan Baku Alternatif

No.

Bahan Baku

Limbah (Bahan Baku Alternatif)

Input pada Pabrik Semen

1

Silicon (Si)

Used Foundry Sand

Raw Mill

Molding sand (Mortar)

Raw Mill

2

Calcium (Ca)

Limestone/ chalk

Raw Mill/ Cement mill

Foam concrete granulates

Raw Mill

Calcium fluoride

Raw Mill

3

Iron (Fe)

Iron slag

Raw Mill

Cooper slag

Raw Mill

Dust EAF

Raw Mill

Iron scale

Raw Mill

Blast furnace & converter slag

Raw Mill

Iron ore

Raw Mill

Pyrite cinder

Raw Mill

4

Aluminium (Al)

Industrial sludge

Raw Mill

5

Si – Al – Ca

Blast furnace slag

Raw Mill

Fly ash,

Raw Mill

Ash from low quality Coal, Coal tailing

Raw Mill/ Cement mill

Paper residuals

Raw Mill

Ashes from inceneration processes

Raw Mill/ Cement mill

Spent catalyst

Cement mill

Trass

Raw Mill/ Cement mill

6

Si – Al

Clay

Raw Mill

Bentonite / Kaolinite

Raw Mill

Recidues from coal pre treatment

Raw Mill

Crash glass

Raw Mill

7

S

Natural Gypsum

Cement Mill

Chemical gypsum

Cement Mill

Other gypsum from the chemical or ceramic industries

Cement Mill

(sumber: Agus Erfien, Indocemen, 2006 )

Mengingat proses produksi semen ini menggunakan suhu yang sangat tinggi terutama pada proses pembakaran pada rotary kiln (1500 C), suhu dimana pembakaran limbah akan menghasilkan pembakaran sempurna. Namun demikian negara negara Eropa seperti Jerman dan Spanyol, telah memberlakukan peraturan yang ketat bagi limbah yang akan dimanfaatkan sebagai alternative bahan baku maupun bahan bakar. Limbah tersebut antara lain tidak boleh memiliki kandungan merkuri dan halogen melebihi nilai ambang batas yang telah ditentukan (Hg<10 mg/Kg, Halogen (Cl)<0.25%, dll).

sumber :

http://b3.menlh.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: