CERUK BARU BISNIS PENGELOLAAN LIMBAH B3

CERUK BARU BISNIS PENGELOLAAN LIMBAH B3

Program strategis PROPER yaitu Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah merupakan suatu program unggulan. Program ini bukan hanya menjadi unggulan dalam skala nasional, tetapi ternyata PROPER juga sudah berkembang dan diikuti oleh Negara-negara lainnya diluar Indonesia, misalnya di Afrika Selatan, Ghana, Vietnam, dan berbagai Negara lainnya di Pasifik. PROPER secara statistik menunjukkan efektifitas peningkatan pentaatan yaitu mencapai 28%. Oleh sebab itu, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Ir. Rachmat Witoelar berkali-kali memberikan statement pers akan menggugat industri ataupun perusahaan yang mendapatkan peringkat hitam secara berturut-turut 2 kali.

Sarana pengolahan Limbah B3 yang dimiliki PT. PPLi di Desa Nambo – Cileungsi Bogor

Berdasarkan data monitoring yang dilakukan oleh Tim PROPER, menunjukkan indikasi bahwa peringkat hitam umumnya diakibatkan oleh kegiatan dumping limbah B3. Informasi yang didapatkan oleh redaksi bahwa ternyata ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh pihak industri, salah satunya adalah mahalnya biaya pengelolaan limbah B3. Kondisi ini dimungkinkan, karena baru hanya satu instalasi pengelolaan limbah B3 yang selevel dengan PT. PPLi di Indonesia, sehingga iklim kompetisi dan mekanisme pasar tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pangsa Pasar bergantung regulasi

Permasalahan di atas menunjukkan bahwa sebenarnya pangsa pasar jasa bisnis pengelolaan limbah B3 adalah merupakan ceruk baru bagi kalangan pengusaha. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Deputi Pengelolaan B3 dan Limbah B3 bahwa pada tahun 2006, jumlah limbah B3 yang dihasilkan mencapai angka + 7 juta ton, yang dimanfaatkan mencapai 1,7 juta Ton, sedangkan yang dikelola oleh PT. PPLi angkanya masih dibawah 100 ribu ton.

Beberapa waktu yang lalu juga perusahaan-perusahaan dari Industri MIGAS, mempunyai permasalahan dalam pengeboran minyak dan gas yang dilakukannya, dimana dalam proses pengeborannya terdapat kandungan merkuri (Hg) dari alam yang relatif berdampak signifikan terhadap kondisi lahannya menjadi terkontaminasi oleh merkuri (Hg). Pada saat ini di Indonesia belum ada industri atau jasa pengelolaan limbah B3 yang mampu mengolah limbah B3 yang terkontaminasi oleh merkuri (Hg) tersebut. Sehingga solusi yang harus dilakukan adalah mengekspor limbah B3 yang terkontaminasi merkuri tersebut ke luar negeri, seperti Kanada, Belanda, Swiss, dan negara Eropah lainnya. Biaya yang diperlukan untuk mengekspor dan mengolah limbah B3 tersebut di luarnegeri relatif mahal, bahkan untuk satu kali pengangkutan dengan jumlah 150 ton mencapai US $ 500.000.

Memang harus diakui bahwa pangsa pasar jasa pengelolaan limbah B3 sangat bergantung dengan regulasi yang ada. Semakin ketat dan konsisten regulasi ditegakkan, maka semakin besar ceruk pasar yang akan ditimbulkannya. Porsi Pemerintah adalah melaksanakan compliance terhadap regulasi dan aturan yang ada, sedangkan porsi swasta ataupun BUMN adalah untuk menangkapnya menjadi peluang bisnis. Perlu diingat, bisnis jasa pengelolaan limbah B3 juga harus melaksanakan aturan-aturan yang sudah ada, kalau tidak ingin dibekukan bisnis jasa pengelolaannya.

sumber :

http://b3.menlh.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: