Re-use, Re-cycle dan Recovery

August 30, 2008

PRINSIP 3 R SEJALAN DENGAN HUKUM ALAM

Sudah menjadi suatu ketetapan Tuhan bahwa bumi dan seisinya diciptakan olehNya untuk memenuhi kebutuhan manusia, dan manusia memegang peranan yang cukup penting sehingga keberadaan umat manusia di alam ini mempunyai tujuan yang jelas. Semua kita sepakat bahwasanya kita harus memakmurkan bumi dan seisinya demi kehidupan manusia sendiri dan kita tidak diperbolehkan untuk membuat kerusakan di muka bumi.

Menilik kebelakang akan pembentukan salah satu unsur yang sangat penting di alam ini adalah oksigen atau zat asam arang (O2). Bumi pada saat awalnya belum mempunyai oksigen yang cukup dalam bentuk fasa gas di udara bebas (ambien) sehingga belum mampu untuk menopang kehidupan seperti sekarang lalu pertanyaannya dari mana oksigen dari udara ambien berasal sehingga dapat cukup untuk menopang makhluk yang ada di alam ini?

Pertimbangkan atmosphir, atmosphir kita terdiri dari 21% oksigen. pada saat awal usia bumi oksigen yang ada sebagian besar terperangkap di samudra atau lautan, atau di bebatuan dan juga tanah. Lambat laun sampai jutaan tahun tanaman mengeluarkan oksigen ke dalam udara semakin besar seiring dengan berjalannya waktu sehingga membuat peluang hidup untuk hewan.

Dari salah satu contoh di atas terllihat bahwa keberadaan suatu makluk baik itu tanaman, binatang, manusia, unsur kimia hidrogen, senyawa kimia air dll mempunyai tujuan yang jelas dalam menopang roda perputaran kehidupan bumi secara keseluruhan.

Yang menjadi pertanyaan kedua adalah apakah jumlah meteri yang ada di alam ini termasuk oksigen, air dll jumlahnya tetap (mohon diingat !! JUMLAH MASSA BUKAN VOLUME) ? jawabnya adalah YA. Jumlah massanya relatif tetap.

Ambil sebuah gelas dan isi dengan air putih, amati dan amati terus lalu tebak pertanyaan di bawah ini:

BERAPA UMUR DARI AIR YANG ADA DI GELAS TERSEBUT?

Air yang ada di gelas tersebut mungkin hasil presipitasi dari langit sebagai hujan baru seminggu yang lalu tetapi yang jelas air tersebut berumur sepanjang bumi ini ada.

Ketika ikan mulai ada di alam dan berenang di lautan, air dari gelas anda merupakan bagian dari laut tersebut, ketika seekor Brontosaurus (salah satu jenis hewan golongan Dinosaurus) sedang berendam di danau mungkin air dalam gelas anda bagian dari air yang ada di danau tersebut, ketika seorang raja minum segelas air, dari sebuah sumur maka mungkin air dari gelas anda bagian dari sumur tersebut……………..

Prinsip Re-use, Re-cycle dan Recovery dalam suatu siklus material.

Bumi menyediakan kita dengan elemen elemen dasar yang dapat kita jadikan menyusun material yang sangat bervariasi, bahkan jumlahnya dari tahun ke tahun semakin bertambah. namun hal ini perlu diingat bahwa jumlah massanya adalah relatif konstan. Beberapa elemen dasar tersebut ada yang berbentuk padat dan siap untuk digunakan seperti emas, ada juga dalam bentuk gas, ataupun liquid. Juga, sebagian elemen itu terperperangkap di lautan, perut bumi ataupun atmosphir.

Seringkali kita perlu melakukan kegiatan menambang untuk memperoleh material tertentu, Alumunium (Al) misalnya adalah suatu jenis metal yang sangat banyak dijumpai di alam dimana hampir 15% kulit bumi mengandung Alumunium. Akan tetapi ketika itu diekstraksi dari perut bumi, alumunium masih terikat dengan oksigen membentuk Alumina (Al2O3) atau sering disebut BAUXITE. Kegiatan pemisahan untuk mendampatkan Alumunium murni dari biji bauxite memerlukan energi yang sangat besar. Dan jika melakukan kegiatan Recycle scrap alumunium maka akan dihemat energi sampai 95%.

Dalam management pengelolaan limbah dikenal hirarki limbah sebagai berikut reduce à reuse à recycle à recovery à treatment à dispose (landfill). Sehingga tindakan mengolah limbah dengan cara landfill adalah merupakan hirarki terakhir, sebenarnya adalah tindakan yang sangat tidak popular (tidak diinginkan).

Siklus Material

Sebelum membicarakan tentang siklus material maka perlu terlebih dahulu mengetahui proses synthesis dari suatu material. Synthesis proses adalah proses menstransformasikan gas, liquid dan solid dengan melibatkan proses kimia dan fisika sehingga atom dan molekul dikombinasikan membentuk material lainnya baik padat gas ataupun solid. Ambil contoh, synthesis polimer dari material seperti batubara, minyak bumi, air dan udara akan menghasilkan nylon atau produk-produk lainnya.

Siklus material dimulai dari ekstraksi material yang berasal dari limbah yang dikuti dengan proses pembuatan bahan baku secara menyeluruh kemudian dilakukan sintesa proses sehingga membentuk material yang siap di pabrikasi sehingga membentuk produk jadi yang siap dipasarkan ke konsumen. Setelah selesai digunakan oleh konsumen maka biasanya produk tersebut menjadi limbah yang siap untuk dilakukan proses ekstraksi kembali – siklus dimulai kembali. Hal ini seperti yang telah diajarkan oleh alam kepada kita tentang siklus suatu materi.

Setiap satu ton dari besi baja yang di recycle akan dihemat 0.75 ton batubara, 65 kg limestone dan 1,3 ton biji besi.

Di Amerika Serikat rata rata satu pabrik besi baja dapat menghemat energi setara dengan keperluan energi yang digunakan oleh 18 juta penduduk Amerika Serikat hal dikarenakan mereka mengedepankan bahan recycle.

Suatu limbah jika telah ditimbun maka biasanya akan dibiarkan sekian lama puluhan bahkan ratusan tahun, sementara semakin mudah terdegradasi limbah tersebut maka semakin baik dari sisi lingkungan. Bahkan terdapat suatu laporan

(sumber: http://www.ci.houston.tx.us/department/solid/basic.htm) yang menyebutkan bahwa

Landfill excavations have discovered 35-year-old newspapers you can still read. Even after twenty years, one-third to one-half of organic waste is still intact. (Organic waste is garbage like food waste and grass clipping).”

Dari pernyataan di atas terlihat bahwa limbah organik yang seharusnya dalam kurun waktu yang realtif cepat dapat terdegradasi, dikarenakan sesuatu hal (misalnya system landfilling yang kurang baik, pemeliharaannya yang tidak teratur dll) sampai kurun waktu yang relatif lama belum juga dapat terdegradasi 100%, kejadian seperti di atas ternyata terjadi.

Perjalanan pengalaman Jepang dalam mengelola limbahnya adalah suatu hal yang perlu kita simak. Jepang dapat menurunkan jumlah limbah yang dibuang ke landfill dari 110 juta ton pada tahun 1985, setelah 10 tahun (2005) dapat diturunkan menjadi 50%, sehingga jumlahnya menjadi hanya +/- 50 juta ton. Dan yang perlu diketahui bahwa jumlah tersebut hanya 2.4 % dari jumlah total limbah yang dihasilkan di Jepang. Jepang juga merencanakan pada tahun 2010 jumlah limbah yang pergi ke landfill hanya 1,8%. (selengkpanya lihat tabel di bawah)

Sehingga meminimumkan jumlah limbah yang dibawa ke landfill untuk ditimbun merupakan suatu tindakan penghematan sumber daya secara tidak langsung dan juga sekaligus mengurangi jumlah limbah untuk menghasilkan produk yang sejenis dibandingkan produks tersebut dimulai dari awal sintesa proses.

GAMBARAN

LIMBAH YANG DIKELOLA DI JEPANG

(Dalam Juta Ton)

METODOLOGI PENGELOLAAN

Dikelola sbg landfill

Dikelola non landfill

Jumlah Limbah

-

Recycle

212

-

Dibuang ke alam

(dgn batasan baku mutu)

83

-

Reduksi

237

Landfill

-

50

TOTAL JUMLAH LIMBAH =

582

Target penurunan jumlah limbah yang di landfill adalah 1.8% dari total jumlah limbah (th 2010)

Sumber: http://www2.minambiente.it/Sito/settori_azione/pia/docs/ce_3R_03_10_05/presentazioni/okuma_1.pdf

Hal yang sungguh menarik adalah beberapa pengembangan yang sedang dilakukan di Amerika Serikat dan Australia yang diambil dari cuplikan artikel dari sumber sumber tertentu, sbb:

  1. Gas Hidrogen (H2) dan sampah kulit telur (sumber: Neil Gross, Bussines Week, November, 28,2007)

Setiap tahun warga AS mengonsumsi puluhan milyar butir telur. Ternyata dari kulit telur para peneliti dapat membuktikan bahwa gas hydrogen dapat diproduksi dengan bantuan zat yang ada di dalam kulit telur. Gas hydrogen banyak digunakan di kilang minyak dan kelak dapat juga sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan karena akan menghasilkan H2O (uap air) jika dibakar. Secara sederhana dapat dijabarkan sbb:

“Komposisi utama penyusun kulit telur adalah kalsium karbonat yang wujudnya bisa dikonversi menjadi kapur perekat. Ketika larutan gas dari arang bereaksi dengan uap, kulit telur yang kini berwujud kapur perekat menyaring CO2 sehingga yang tertinggal sebagian besar adalah H2. Komposisi kulit telur adalah salah satu pengikat CO2 yang paling efisien dari semua bahan yang diteliti.”

  1. Produksi “green steel” – produksi besi baja dari sampah plastik.

(sumber: Louise Williams, Making “green steel” a reality, Jakarta Post, November 13, 2007)

Sampah plastik yang kadang berwujud dari berbagai jenis, telah dibuktikan mampu sebagai bahan pengganti bahan baku di proses pembuatan besi baja. Pertanyaan simpel yang muncul adalah bagaimana hal ini dapat terjadi? Jawaban secara scientificnya juga relatif simpel karena di dalam fasilitas arc furnace yang ada di pabrik besi baja perlu ditambahkan batubara (bisanya jenis anthracite) untuk mendorong terjadinya reaksi karbon pada temperatur tinggi. Batubara ini dapat digantikan dengan sampah plastik. Hal ini telah dilakukan di Australia (pabrik besi baja “onesteel” Australia – sebagai salah satu pemegang lisensi ini yang bekerja sama dengan UNSW – Universitas New South Wales). Dalam proses ini dapat di hemat energy sebesar 11.1 kWh per ton produk besi baja, dan emisi nya juga relative lebih bersih.

Pelajaran yang kita ambil dari 2 (dua) cuplikan artikel di atas adalah dua duanya mempunyai misi yang sama yaitu ingin mewujudkan limbah sebagai suatu sumber daya, sehingga menghindari keberadaan suatu materi yang ada di alam ini menjadi sia sia. Seperti di prakata di awal tulisan ini bahwa Bumi dan seisinya diciptakan untuk keperluan manusia, dan manusia dikasih oleh Tuhan YME akal, yang akan bertindak mengolah bumi seisinya, sehingga tidak ada yang sia sia apa yang telah diciptakan olehNya.

Konferensi 3R ke II

Konferensi 3R dibuka oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup Jepang Mr. Yoshio Tamura, yang menyampaikan posisi Jepang sebagai 3R initiative dan saat ini pemerintah Jepang sedang dalam tahap pembahasan “Fundamental Plan for Establishing a sound Material- Cycle Society”di Kabinet, dan saat ini telah mendapat dukungan dari Menteri-Menteri Lingkungan Hidup Asia Pasific guna menggalang kerjasama regional dalam program 3R baik melalui dialog pengembangan kebijakan, membangun kesamaan visi guna mewujudkan masyarakat yang peduli 3R, serta melalui pemberian bantuan dalam penyusunan Strategi Nasional 3R di Asia Tenggara dan pengembangan “3R Knowledge Hub”.

Konverensi dihadiri oleh :

  • 17 negara Asia (Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Cambodia, China, Indonesia, Japan, Lao PDR, Malaysia, Maldives, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Philippines, Republic of Korea, Singapore, Sri Lanka, Thailand, and Vietnam),
  • Negara anggota G8 (Prancis, Jerman, Italy, Inggris (UK), Unaited States of America, dan European Commission),
  • Australia
  • Organisasi International (Asian Development Bank (ADB), Asian Institute of Technology (AIT), Secretariat of Basel Convention (SBC), United Nation Center for Regional Development (UNCRD), dan United Nation Environment Programme (UNEP) and United Nation Economic and Social Commission for Asia and Pacific (UNESCAP)

Dalam konverensi ini dibahas beberapa hal yang berkaitan dengan masalah 3R secara global, serta policy dan pelaksanaannya dimasing-masing negara peserta. Secara garis besar embahasan dibagi dalam 3 sesi yaitu :

  1. Development of 3R policies and increases in Resource Productivity
  2. Capacity development to support the 3Rs through partnership with various actors
  3. Collaboration towards Sustainable International Resource Circulation

Terkait dengan posisi Indonesia dalam 3R, pada konferensi tersebut telah disampaikan, bahwa :

1. Terkait dengan peraturan Nasional yang ada yaitu UU.23/1997 pasal 21 bahwa Berdasarkan UU No. 23 / 1997 pasal 21 tentang larangan impor limbah B3 (“Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan berbahaya dan beracun”), termasuk limbah electronic.

2. KLH sedang menyusun rencana aksi Nasional penerapan 3R di Indonesia bekerjasama dengan UNCRD

Limbah sebagai Bahan Baku dan Alternatif Bahan Bakar pada Industri Semen

Pada saat ini beberapa pabrik semen di Indonesia telah dan sedang memanfaatkan cangkang (kernel shell) dari kelapa sawit sebagai alternatif fuel. Sedangkan di Eropa alternatif fuel yang banyak dimanfaatkan adalah ban bekas dan limbah sludge domestik. Limbah padat yang bisa dimanfaatkan sebagai alternatif fuel lainnya antara lain: sludge (paper fiber, WWT sewage), packaging waste, carbon fly ash, bottom ash, paint residue, waste plastics, dan biomas seperti: rice husk, palm kernel shell, wastewood, baggase, waste paper, dan waste rubber. Sedangkan limbah cair yang dapat dipergunakan sebagai alternatif fuel anatara lain: waste oil & oiled water, sludge oil, slope oil & recovery oil, solvents dll.

Unsur-unsur kimia yang sangat diperlukan dalam pembuatan semen adalah Silicon (Si), Calcium (Ca), Besi (Fe), Alumunium (Al) dan Sulfur (S). Unsur unsur kimia yang diperlukan tersebut dapat diperoleh dari bahan baku utama proses produksi pabrik semen yang terdiri dari batu kapur, tanah liat, pasir silika, dan pasir besi serta bahan penolong berupa gypsum. Beberapa limbah industri dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan baku pembuatan semen. Limbah tersebut bisa dimasukkan pada proses raw mill atau pada proses cement mill. Beberapa limbah yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif pada industri semen antara lain terlihat pada tabel dibawah ini.

Bahan Baku Alternatif

No.

Bahan Baku

Limbah (Bahan Baku Alternatif)

Input pada Pabrik Semen

1

Silicon (Si)

Used Foundry Sand

Raw Mill

Molding sand (Mortar)

Raw Mill

2

Calcium (Ca)

Limestone/ chalk

Raw Mill/ Cement mill

Foam concrete granulates

Raw Mill

Calcium fluoride

Raw Mill

3

Iron (Fe)

Iron slag

Raw Mill

Cooper slag

Raw Mill

Dust EAF

Raw Mill

Iron scale

Raw Mill

Blast furnace & converter slag

Raw Mill

Iron ore

Raw Mill

Pyrite cinder

Raw Mill

4

Aluminium (Al)

Industrial sludge

Raw Mill

5

Si – Al – Ca

Blast furnace slag

Raw Mill

Fly ash,

Raw Mill

Ash from low quality Coal, Coal tailing

Raw Mill/ Cement mill

Paper residuals

Raw Mill

Ashes from inceneration processes

Raw Mill/ Cement mill

Spent catalyst

Cement mill

Trass

Raw Mill/ Cement mill

6

Si – Al

Clay

Raw Mill

Bentonite / Kaolinite

Raw Mill

Recidues from coal pre treatment

Raw Mill

Crash glass

Raw Mill

7

S

Natural Gypsum

Cement Mill

Chemical gypsum

Cement Mill

Other gypsum from the chemical or ceramic industries

Cement Mill

(sumber: Agus Erfien, Indocemen, 2006 )

Mengingat proses produksi semen ini menggunakan suhu yang sangat tinggi terutama pada proses pembakaran pada rotary kiln (1500 C), suhu dimana pembakaran limbah akan menghasilkan pembakaran sempurna. Namun demikian negara negara Eropa seperti Jerman dan Spanyol, telah memberlakukan peraturan yang ketat bagi limbah yang akan dimanfaatkan sebagai alternative bahan baku maupun bahan bakar. Limbah tersebut antara lain tidak boleh memiliki kandungan merkuri dan halogen melebihi nilai ambang batas yang telah ditentukan (Hg<10 mg/Kg, Halogen (Cl)<0.25%, dll).

sumber :

http://b3.menlh.go.id


CERUK BARU BISNIS PENGELOLAAN LIMBAH B3

August 24, 2008

CERUK BARU BISNIS PENGELOLAAN LIMBAH B3

Program strategis PROPER yaitu Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah merupakan suatu program unggulan. Program ini bukan hanya menjadi unggulan dalam skala nasional, tetapi ternyata PROPER juga sudah berkembang dan diikuti oleh Negara-negara lainnya diluar Indonesia, misalnya di Afrika Selatan, Ghana, Vietnam, dan berbagai Negara lainnya di Pasifik. PROPER secara statistik menunjukkan efektifitas peningkatan pentaatan yaitu mencapai 28%. Oleh sebab itu, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Ir. Rachmat Witoelar berkali-kali memberikan statement pers akan menggugat industri ataupun perusahaan yang mendapatkan peringkat hitam secara berturut-turut 2 kali.

Sarana pengolahan Limbah B3 yang dimiliki PT. PPLi di Desa Nambo – Cileungsi Bogor

Berdasarkan data monitoring yang dilakukan oleh Tim PROPER, menunjukkan indikasi bahwa peringkat hitam umumnya diakibatkan oleh kegiatan dumping limbah B3. Informasi yang didapatkan oleh redaksi bahwa ternyata ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh pihak industri, salah satunya adalah mahalnya biaya pengelolaan limbah B3. Kondisi ini dimungkinkan, karena baru hanya satu instalasi pengelolaan limbah B3 yang selevel dengan PT. PPLi di Indonesia, sehingga iklim kompetisi dan mekanisme pasar tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pangsa Pasar bergantung regulasi

Permasalahan di atas menunjukkan bahwa sebenarnya pangsa pasar jasa bisnis pengelolaan limbah B3 adalah merupakan ceruk baru bagi kalangan pengusaha. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Deputi Pengelolaan B3 dan Limbah B3 bahwa pada tahun 2006, jumlah limbah B3 yang dihasilkan mencapai angka + 7 juta ton, yang dimanfaatkan mencapai 1,7 juta Ton, sedangkan yang dikelola oleh PT. PPLi angkanya masih dibawah 100 ribu ton.

Beberapa waktu yang lalu juga perusahaan-perusahaan dari Industri MIGAS, mempunyai permasalahan dalam pengeboran minyak dan gas yang dilakukannya, dimana dalam proses pengeborannya terdapat kandungan merkuri (Hg) dari alam yang relatif berdampak signifikan terhadap kondisi lahannya menjadi terkontaminasi oleh merkuri (Hg). Pada saat ini di Indonesia belum ada industri atau jasa pengelolaan limbah B3 yang mampu mengolah limbah B3 yang terkontaminasi oleh merkuri (Hg) tersebut. Sehingga solusi yang harus dilakukan adalah mengekspor limbah B3 yang terkontaminasi merkuri tersebut ke luar negeri, seperti Kanada, Belanda, Swiss, dan negara Eropah lainnya. Biaya yang diperlukan untuk mengekspor dan mengolah limbah B3 tersebut di luarnegeri relatif mahal, bahkan untuk satu kali pengangkutan dengan jumlah 150 ton mencapai US $ 500.000.

Memang harus diakui bahwa pangsa pasar jasa pengelolaan limbah B3 sangat bergantung dengan regulasi yang ada. Semakin ketat dan konsisten regulasi ditegakkan, maka semakin besar ceruk pasar yang akan ditimbulkannya. Porsi Pemerintah adalah melaksanakan compliance terhadap regulasi dan aturan yang ada, sedangkan porsi swasta ataupun BUMN adalah untuk menangkapnya menjadi peluang bisnis. Perlu diingat, bisnis jasa pengelolaan limbah B3 juga harus melaksanakan aturan-aturan yang sudah ada, kalau tidak ingin dibekukan bisnis jasa pengelolaannya.

sumber :

http://b3.menlh.go.id


Teknik Pengolahan Sampah

August 22, 2008

Teknologi Pengolahan Sampah

By Michael Hutagalung on 30 December 2007  19 Comments Print this article Email this article

Pernah mendengan PLTSa? Pembangkit Listrik Tenaga Sampah? Suatu isu yang sedang hangat dibicarakan di Kota Bandung, sebuah kota besar di Indonesa yang beberapa waktu yang lalu pernah heboh karena keberadaan sampah yang merayap bahkan hingga badan jalan-jalan utamanya. Jangankan jalan utama, saat Anda memasuki Bandung menuju flyover Pasupati, Anda pasti akan disambut dengan segunduk besar sampah yang hampir menutupi setengah badan jalan. Itu dulu. Sekarang, Kota Bandung sudah kembali menjadi sedia kala dan solusi PLTSa-lah yang sedang diperdebatkan.

Tujuan akhir dari sebuah PLTSa ialah untuk mengkonversi sampah menjadi energi. Pada dasarnya ada dua alternatif proses pengolahan sampah menjadi energi, yaitu proses biologis yang menghasilkan gas-bio dan proses thermal yang menghasilkan panas. PLTSa yang sedang diperdebatkan untuk dibangun di Bandung menggunakan proses thermal sebagai proses konversinya. Pada kedua proses tersebut, hasil proses dapat langsung dimanfaatkan untuk menggerakkan generator listrik. Perbedaan mendasar di antara keduanya ialah proses biologis menghasilkan gas-bio yang kemudian dibarak untuk menghasilkan tenaga yang akan menggerakkan motor yang dihubungkan dengan generator listrik sedangkan proses thermal menghasilkan panas yang dapat digunakan untuk membangkitkan steam yang kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin uap yang dihubungkan dengan generator listrik.

Proses Konversi Thermal

Proses konversi thermal dapat dicapai melalui beberapa cara, yaitu insinerasi, pirolisa, dan gasifikasi. Insinerasi pada dasarnya ialah proses oksidasi bahan-bahan organik menjadi bahan anorganik. Prosesnya sendiri merupakan reaksi oksidasi cepat antara bahan organik dengan oksigen. Apabila berlangsung secara sempurna, kandungan bahan organik (H dan C) dalam sampah akan dikonversi menjadi gas karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Unsur-unsur penyusun sampah lainnya seperti belerang (S) dan nitrogen (N) akan dioksidasi menjadi oksida-oksida dalam fasa gas (SOx, NOx) yang terbawa di gas produk. Beberapa contoh insinerator ialah open burning, single chamber, open pit, multiple chamber, starved air unit, rotary kiln, dan fluidized bed incinerator.

Incinerator

Incinerator. Sebuah ilustrasi bagian-bagian dalam sebuah incinerator.

Pirolisa merupakan proses konversi bahan organik padat melalui pemanasan tanpa kehadiran oksigen. Dengan adanya proses pemanasan dengan temperatur tinggi, molekul-molekul organik yang berukuran besar akan terurai menjadi molekul organik yang kecil dan lebih sederhana. Hasil pirolisa dapat berupa tar, larutan asam asetat, methanol, padatan char, dan produk gas.

Gasifikasi merupakan proses konversi termokimia padatan organik menjadi gas. Gasifikasi melibatkan proses perengkahan dan pembakaran tidak sempurna pada temperatur yang relatif tinggi (sekitar 900-1100 C). Seperti halnya pirolisa, proses gasifikasi menghasilkan gas yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 4000 kJ/Nm3.

Proses Konversi Biologis

Proses konversi biologis dapat dicapai dengan cara digestion secara anaerobik (biogas) atau tanah urug (landfill). Biogas adalah teknologi konversi biomassa (sampah) menjadi gas dengan bantuan mikroba anaerob. Proses biogas menghasilkan gas yang kaya akan methane dan slurry. Gas methane dapat digunakan untuk berbagai sistem pembangkitan energi sedangkan slurry dapat digunakan sebagai kompos. Produk dari digester tersebut berupa gas methane yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 6500 kJ/Nm3.

Modern Landfill

Modern Landfill. Konsep landfill seperti di atas ialah sebuah konsep landfill modern yang di dalamnya terdapat suatu sistem pengolahan produk buangan yang baik.

Landfill ialah pengelolaan sampah dengan cara menimbunnya di dalam tanah. Di dalam lahan landfill, limbah organik akan didekomposisi oleh mikroba dalam tanah menjadi senyawa-senyawa gas dan cair. Senyawa-senyawa ini berinteraksi dengan air yang dikandung oleh limbah dan air hujan yang masuk ke dalam tanah dan membentuk bahan cair yang disebut lindi (leachate). Jika landfill tidak didesain dengan baik, leachate akan mencemari tanah dan masuk ke dalam badan-badan air di dalam tanah. Karena itu, tanah di landfill harus mempunya permeabilitas yang rendah. Aktifias mikroba dalam landfill menghasilkan gas CH4 dan CO2 (pada tahap awal – proses aerobik) dan menghasilkan gas methane (pada proses anaerobiknya). Gas landfill tersebut mempunyai nilai kalor sekitar 450-540 Btu/scf. Sistem pengambilan gas hasil biasanya terdiri dari sejumlah sumur-sumur dalam pipa-pipa yang dipasang lateral dan dihubungkan dengan pompa vakum sentral. Selain itu terdapat juga sistem pengambilan gas dengan pompa desentralisasi.

Pemilihan Teknologi

Tujuan suatu sitem pemanfaatan sampah ialah dengan mengkonversi sampah tersebut menjadi bahan yang berguna secara efisien dan ekonomis dengan dampak lingkungan yang minimal. Untuk melakukan pemilihan alur konversi sampah diperlukan adanya informasi tentang karakter sampah, karakter teknis teknologi konversi yang ada, karakter pasar dari produk pengolahan, implikasi lingkungan dan sistem, persyaratan lingkungan, dan yang pasti: keekonomian.

Kembali ke Bandung. Kira-kira teknologi mana yang tepat sebagai solusi pengolahan sampah menjadi bahan berguna? Apakah PLTSa sudah merupakan teknologi yang tepat??

Referensi: Pengelolaan Limbah Industri – Prof. Tjandra Setiadi

sumber: http://majarimagazine.com


Teknologi Pengolahan Limbah

August 22, 2008

Teknologi Pengolahan Air Limbah

By Wahyu Hidayat on 1 January 2008 

Pembuangan air limbah baik yang bersumber dari kegiatan domestik (rumah tangga) maupun industri ke badan air dapat menyebabkan pencemaran lingkungan apabila kualitas air limbah tidak memenuhi baku mutu limbah. Sebagai contoh, mari kita lihat Kota Jakarta. Jakarta merupakan sebuah ibukota yang amat padat sehingga letak septic tank, cubluk (balong), dan pembuangan sampah berdekatan dengan sumber air tanah. Terdapat sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa 285 sampel dari 636 titik sampel sumber air tanah telah tercemar oleh bakteri coli. Secara kimiawi, 75% dari sumber tersebut tidak memenuhi baku mutu air minum yang parameternya dinilai dari unsur nitrat, nitrit, besi, dan mangan.

Trickling filter. Sebuah trickling filter bed yang menggunakan plastic media.

Bagaimana dengan air limbah industri? Dalam kegiatan industri, air limbah akan mengandung zat-zat/kontaminan yang dihasilkan dari sisa bahan baku, sisa pelarut atau bahan aditif, produk terbuang atau gagal, pencucian dan pembilasan peralatan, blowdown beberapa peralatan seperti kettle boiler dan sistem air pendingin, serta sanitary wastes. Agar dapat memenuhi baku mutu, industri harus menerapkan prinsip pengendalin limbah secara cermat dan terpadu baik di dalam proses produksi (in-pipe pollution prevention) dan setelah proses produksi (end-pipe pollution prevention). Pengendalian dalam proses produksi bertujuan untuk meminimalkan volume limbah yang ditimbulkan, juga konsentrasi dan toksisitas kontaminannya. Sedangkan pengendalian setelah proses produksi dimaksudkan untuk menurunkan kadar bahan peencemar sehingga pada akhirnya air tersebut memenuhi baku mutu yang sudah ditetapkan.

Parameter

Konsentrasi (mg/L)

COD

100 – 300

BOD

50 – 150

Minyak nabati

5 – 10

Minyak mineral

10 – 50

Zat padat tersuspensi (TSS)

200 – 400

pH

6.0 – 9.0

Temperatur

38 – 40 [oC]

Ammonia bebas (NH3)

1.0 – 5.0

Nitrat (NO3-N)

20 – 30

Senyawa aktif biru metilen

5.0 – 10

Sulfida (H2S)

0.05 – 0.1

Fenol

0.5 – 1.0

Sianida (CN)

0.05 – 0.5

Batasan Air Limbah untuk Industri
Kepmen LH No. KEP-51/MENLH/10/1995

Namun walaupun begitu, masalah air limbah tidak sesederhana yang dibayangkan karena pengolahan air limbah memerlukan biaya investasi yang besar dan biaya operasi yang tidak sedikit. Untuk itu, pengolahan air limbah harus dilakukan dengan cermat, dimulai dari perencanaan yang teliti, pelaksanaan pembangunan fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) atau unit pengolahan limbah (UPL) yang benar, serta pengoperasian yang cermat.

Dalam pengolahan air limbah itu sendiri, terdapat beberapa parameter kualitas yang digunakan. Parameter kualitas air limbah dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu parameter organik, karakteristik fisik, dan kontaminan spesifik. Parameter organik merupakan ukuran jumlah zat organik yang terdapat dalam limbah. Parameter ini terdiri dari total organic carbon (TOC), chemical oxygen demand (COD), biochemical oxygen demand (BOD), minyak dan lemak (O&G), dan total petrolum hydrocarbons (TPH). Karakteristik fisik dalam air limbah dapat dilihat dari parameter total suspended solids (TSS), pH, temperatur, warna, bau, dan potensial reduksi. Sedangkan kontaminan spesifik dalam air limbah dapat berupa senyawa organik atau inorganik.

Teknologi Pengolahan Air Limbah

Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Pengolahan air limbah tersebut dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap:

  1. Pengolahan Awal (Pretreatment)
    Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen and grit removal, equalization and storage, serta oil separation.
  2. Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment)
    Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah neutralization, chemical addition and coagulation, flotation, sedimentation, dan filtration.
  3. Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment)
    Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge, anaerobic lagoon, tricking filter, aerated lagoon, stabilization basin, rotating biological contactor, serta anaerobic contactor and filter.
  4. Pengolahan Tahap Ketiga (Tertiary Treatment)
    Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah coagulation and sedimentation, filtration, carbon adsorption, ion exchange, membrane separation, serta thickening gravity or flotation.
  5. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
    Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses digestion or wet combustion, pressure filtration, vacuum filtration, centrifugation, lagooning or drying bed, incineration, atau landfill.

Pemilihan Teknologi

Pemilihan proses yang tepat didahului dengan mengelompokkan karakteristik kontaminan dalam air limbah dengan menggunakan indikator parameter yang sudah ditampilkan di tabel di atas. Setelah kontaminan dikarakterisasikan, diadakan pertimbangan secara detail mengenai aspek ekonomi, aspek teknis, keamanan, kehandalan, dan kemudahan peoperasian. Pada akhirnya, teknologi yang dipilih haruslah teknologi yang tepat guna sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah. Setelah pertimbangan-pertimbangan detail, perlu juga dilakukan studi kelayakan atau bahkan percobaan skala laboratorium yang bertujuan untuk:

  1. Memastikan bahwa teknologi yang dipilih terdiri dari proses-proses yang sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah.
  2. Mengembangkan dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk menentukan efisiensi pengolahan yang diharapkan.
  3. Menyediakan informasi teknik dan ekonomi yang diperlukan untuk penerapan skala sebenarnya.

Sedimentation. Sebuah primary sedimentation tank di sebuah unit pengolahan limbah domestik. Sedimentation tank merupakan salah satu unit pengolahan limbah yang sangat umum digunakan.

Bottomline, perlu kita semua sadari bahwa limbah tetaplah limbah. Solusi terbaik dari pengolahan limbah pada dasarnya ialah menghilangkan limbah itu sendiri. Produksi bersih (cleaner production) yang bertujuan untuk mencegah, mengurangi, dan menghilangkan terbentuknya limbah langsung pada sumbernya di seluruh bagian-bagian proses dapat dicapai dengan penerapan kebijaksanaan pencegahan, penguasaan teknologi bersih, serta perubahan mendasar pada sikap dan perilaku manajemen. Treatment versus Prevention? Mana yang menurut teman-teman lebih baik?? Saya yakin kita semua tahu jawabannya. Reduce, recyle, and reuse.

Referensi: Pengelolaan Limbah Industri – Prof. Tjandra Setiadi, Wikipedia

Teknologi Pengolahan Limbah B3

By Wahyu Hidayat on 2 January 2008 36 Comments Print this article Email this article

Definisi limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) karena sifat (toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity) serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia.

Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi:

  • Primary sludge, yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah menguap
  • Chemical sludge, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi
  • Excess activated sludge, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dengn lumpur aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil proses tersebut
  • Digested sludge, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan banyak mengandung padatan organik.

Limbah B3 dikarakterisasikan berdasarkan beberapa parameter yaitu total solids residue (TSR), kandungan fixed residue (FR), kandungan volatile solids (VR), kadar air (sludge moisture content), volume padatan, serta karakter atau sifat B3 (toksisitas, sifat korosif, sifat mudah terbakar, sifat mudah meledak, beracun, serta sifat kimia dan kandungan senyawa kimia).

Contoh limbah B3 ialah logam berat seperti Al, Cr, Cd, Cu, Fe, Pb, Mn, Hg, dan Zn serta zat kimia seperti pestisida, sianida, sulfida, fenol dan sebagainya. Cd dihasilkan dari lumpur dan limbah industri kimia tertentu sedangkan Hg dihasilkan dari industri klor-alkali, industri cat, kegiatan pertambangan, industri kertas, serta pembakaran bahan bakar fosil. Pb dihasilkan dari peleburan timah hitam dan accu. Logam-logam berat pada umumnya bersifat racun sekalipun dalam konsentrasi rendah. Daftar lengkap limbah B3 dapat dilihat di PP No. 85 Tahun 1999: Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Silakan klik link tersebut untuk daftar lengkap yang juga mencakup peraturan resmi dari Pemerintah Indonesia.

Penanganan atau pengolahan limbah padat atau lumpur B3 pada dasarnya dapat dilaksanakan di dalam unit kegiatan industri (on-site treatment) maupun oleh pihak ketiga (off-site treatment) di pusat pengolahan limbah industri. Apabila pengolahan dilaksanakan secara on-site treatment, perlu dipertimbangkan hal-hal berikut:

  • jenis dan karakteristik limbah padat yang harus diketahui secara pasti agar teknologi pengolahan dapat ditentukan dengan tepat; selain itu, antisipasi terhadap jenis limbah di masa mendatang juga perlu dipertimbangkan
  • jumlah limbah yang dihasilkan harus cukup memadai sehingga dapat menjustifikasi biaya yang akan dikeluarkan dan perlu dipertimbangkan pula berapa jumlah limbah dalam waktu mendatang (1 hingga 2 tahun ke depan)
  • pengolahan on-site memerlukan tenaga tetap (in-house staff) yang menangani proses pengolahan sehingga perlu dipertimbangkan manajemen sumber daya manusianya
  • peraturan yang berlaku dan antisipasi peraturan yang akan dikeluarkan Pemerintah di masa mendatang agar teknologi yang dipilih tetap dapat memenuhi standar

Teknologi Pengolahan

Terdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri, tiga metode yang paling populer di antaranya ialah chemical conditioning, solidification/Stabilization, dan incineration.

  1. Chemical Conditioning
    Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah chemical conditioning. TUjuan utama dari chemical conditioning ialah:

    • menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam lumpur
    • mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam lumpur
    • mendestruksi organisme patogen
    • memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioning yang masih memiliki nilai ekonomi seperti gas methane yang dihasilkan pada proses digestion
    • mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam keadaan aman dan dapat diterima lingkungan

Chemical conditioning terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:

6. Concentration thickening
Tahapan ini bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang akan diolah dengan cara meningkatkan kandungan padatan. Alat yang umumnya digunakan pada tahapan ini ialah gravity thickener dan solid bowl centrifuge. Tahapan ini pada dasarnya merupakan tahapan awal sebelum limbah dikurangi kadar airnya pada tahapan de-watering selanjutnya. Walaupun tidak sepopuler gravity thickener dan centrifuge, beberapa unit pengolahan limbah menggunakan proses flotation pada tahapan awal ini.

7. Treatment, stabilization, and conditioning
Tahapan kedua ini bertujuan untuk menstabilkan senyawa organik dan menghancurkan patogen. Proses stabilisasi dapat dilakukan melalui proses pengkondisian secara kimia, fisika, dan biologi. Pengkondisian secara kimia berlangsung dengan adanya proses pembentukan ikatan bahan-bahan kimia dengan partikel koloid. Pengkondisian secara fisika berlangsung dengan jalan memisahkan bahan-bahan kimia dan koloid dengan cara pencucian dan destruksi. Pengkondisian secara biologi berlangsung dengan adanya proses destruksi dengan bantuan enzim dan reaksi oksidasi. Proses-proses yang terlibat pada tahapan ini ialah lagooning, anaerobic digestion, aerobic digestion, heat treatment, polyelectrolite flocculation, chemical conditioning, dan elutriation.

8. De-watering and drying
De-watering and drying bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan air dan sekaligus mengurangi volume lumpur. Proses yang terlibat pada tahapan ini umumnya ialah pengeringan dan filtrasi. Alat yang biasa digunakan adalah drying bed, filter press, centrifuge, vacuum filter, dan belt press.

9. Disposal
Disposal ialah proses pembuangan akhir limbah B3. Beberapa proses yang terjadi sebelum limbah B3 dibuang ialah pyrolysis, wet air oxidation, dan composting. Tempat pembuangan akhir limbah B3 umumnya ialah sanitary landfill, crop land, atau injection well.

  1. Solidification/Stabilization
    Di samping chemical conditiong, teknologi solidification/stabilization juga dapat diterapkan untuk mengolah limbah B3. Secara umum stabilisasi dapat didefinisikan sebagai proses pencapuran limbah dengan bahan tambahan (aditif) dengan tujuan menurunkan laju migrasi bahan pencemar dari limbah serta untuk mengurangi toksisitas limbah tersebut. Sedangkan solidifikasi didefinisikan sebagai proses pemadatan suatu bahan berbahaya dengan penambahan aditif. Kedua proses tersebut seringkali terkait sehingga sering dianggap mempunyai arti yang sama. Proses solidifikasi/stabilisasi berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi 6 golongan, yaitu:

0. Macroencapsulation, yaitu proses dimana bahan berbahaya dalam limbah dibungkus dalam matriks struktur yang besar

1. Microencapsulation, yaitu proses yang mirip macroencapsulation tetapi bahan pencemar terbungkus secara fisik dalam struktur kristal pada tingkat mikroskopik

2. Precipitation

3. Adsorpsi, yaitu proses dimana bahan pencemar diikat secara elektrokimia pada bahan pemadat melalui mekanisme adsorpsi.

4. Absorbsi, yaitu proses solidifikasi bahan pencemar dengan menyerapkannya ke bahan padat

5. Detoxification, yaitu proses mengubah suatu senyawa beracun menjadi senyawa lain yang tingkat toksisitasnya lebih rendah atau bahkan hilang sama sekali

Teknologi solidikasi/stabilisasi umumnya menggunakan semen, kapur (CaOH2), dan bahan termoplastik. Metoda yang diterapkan di lapangan ialah metoda in-drum mixing, in-situ mixing, dan plant mixing. Peraturan mengenai solidifikasi/stabilitasi diatur oleh BAPEDAL berdasarkan Kep-03/BAPEDAL/09/1995 dan Kep-04/BAPEDAL/09/1995.

  1. Incineration
    Teknologi pembakaran (incineration ) adalah alternatif yang menarik dalam teknologi pengolahan limbah. Insinerasi mengurangi volume dan massa limbah hingga sekitar 90% (volume) dan 75% (berat). Teknologi ini sebenarnya bukan solusi final dari sistem pengolahan limbah padat karena pada dasarnya hanya memindahkan limbah dari bentuk padat yang kasat mata ke bentuk gas yang tidak kasat mata. Proses insinerasi menghasilkan energi dalam bentuk panas. Namun, insinerasi memiliki beberapa kelebihan di mana sebagian besar dari komponen limbah B3 dapat dihancurkan dan limbah berkurang dengan cepat. Selain itu, insinerasi memerlukan lahan yang relatif kecil.

Aspek penting dalam sistem insinerasi adalah nilai kandungan energi (heating value) limbah. Selain menentukan kemampuan dalam mempertahankan berlangsungnya proses pembakaran, heating value juga menentukan banyaknya energi yang dapat diperoleh dari sistem insinerasi. Jenis insinerator yang paling umum diterapkan untuk membakar limbah padat B3 ialah rotary kiln, multiple hearth, fluidized bed, open pit, single chamber, multiple chamber, aqueous waste injection, dan starved air unit. Dari semua jenis insinerator tersebut, rotary kiln mempunyai kelebihan karena alat tersebut dapat mengolah limbah padat, cair, dan gas secara simultan.

Penanganan Limbah B3

Hazardous Material Container

Limbah B3 harus ditangani dengan perlakuan khusus mengingat bahaya dan resiko yang mungkin ditimbulkan apabila limbah ini menyebar ke lingkungan. Hal tersebut termasuk proses pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutannya. Pengemasan limbah B3 dilakukan sesuai dengan karakteristik limbah yang bersangkutan. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa kemasan limbah B3 harus memiliki kondisi yang baik, bebas dari karat dan kebocoran, serta harus dibuat dari bahan yang tidak bereaksi dengan limbah yang disimpan di dalamnya. Untuk limbah yang mudah meledak, kemasan harus dibuat rangkap di mana kemasan bagian dalam harus dapat menahan agar zat tidak bergerak dan mampu menahan kenaikan tekanan dari dalam atau dari luar kemasan. Limbah yang bersifat self-reactive dan peroksida organik juga memiliki persyaratan khusus dalam pengemasannya. Pembantalan kemasan limbah jenis tersebut harus dibuat dari bahan yang tidak mudah terbakar dan tidak mengalami penguraian (dekomposisi) saat berhubungan dengan limbah. Jumlah yang dikemas pun terbatas sebesar maksimum 50 kg per kemasan sedangkan limbah yang memiliki aktivitas rendah biasanya dapat dikemas hingga 400 kg per kemasan.

Limbah B3 yang diproduksi dari sebuah unit produksi dalam sebuah pabrik harus disimpan dengan perlakuan khusus sebelum akhirnya diolah di unit pengolahan limbah. Penyimpanan harus dilakukan dengan sistem blok dan tiap blok terdiri atas 2×2 kemasan. Limbah-limbah harus diletakkan dan harus dihindari adanya kontak antara limbah yang tidak kompatibel. Bangunan penyimpan limbah harus dibuat dengan lantai kedap air, tidak bergelombang, dan melandai ke arah bak penampung dengan kemiringan maksimal 1%. Bangunan juga harus memiliki ventilasi yang baik, terlindung dari masuknya air hujan, dibuat tanpa plafon, dan dilengkapi dengan sistem penangkal petir. Limbah yang bersifat reaktif atau korosif memerlukan bangunan penyimpan yang memiliki konstruksi dinding yang mudah dilepas untuk memudahkan keadaan darurat dan dibuat dari bahan konstruksi yang tahan api dan korosi.

Mengenai pengangkutan limbah B3, Pemerintah Indonesia belum memiliki peraturan pengangkutan limbah B3 hingga tahun 2002. Namun, kita dapat merujuk peraturan pengangkutan yang diterapkan di Amerika Serikat. Peraturan tersebut terkait dengan hal pemberian label, analisa karakter limbah, pengemasan khusus, dan sebagainya. Persyaratan yang harus dipenuhi kemasan di antaranya ialah apabila terjadi kecelakaan dalam kondisi pengangkutan yang normal, tidak terjadi kebocoran limbah ke lingkungan dalam jumlah yang berarti. Selain itu, kemasan harus memiliki kualitas yang cukup agar efektivitas kemasan tidak berkurang selama pengangkutan. Limbah gas yang mudah terbagak harus dilengkapi dengan head shields pada kemasannya sebagai pelindung dan tambahan pelindung panas untuk mencegah kenaikan suhu yang cepat. Di Amerika juga diperlakukan rute pengangkutan khusus selain juga adanya kewajiban kelengkapan Material Safety Data Sheets (MSDS) yang ada di setiap truk dan di dinas pemadam kebarakan.

Secured Landfill. Faktor hidrogeologi, geologi lingkungan, topografi, dan faktor-faktor lainnya harus diperhatikan agar secured landfill tidak merusak lingkungan. Pemantauan pasca-operasi harus terus dilakukan untuk menjamin bahwa badan air tidak terkontaminasi oleh limbah B3.

Pembuangan Limbah B3 (Disposal)

Sebagian dari limbah B3 yang telah diolah atau tidak dapat diolah dengan teknologi yang tersedia harus berakhir pada pembuangan (disposal). Tempat pembuangan akhir yang banyak digunakan untuk limbah B3 ialah landfill (lahan urug) dan disposal well (sumur pembuangan). Di Indonesia, peraturan secara rinci mengenai pembangunan lahan urug telah diatur oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) melalui Kep-04/BAPEDAL/09/1995.

Landfill untuk penimbunan limbah B3 diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu: (1) secured landfill double liner, (2) secured landfill single liner, dan (3) landfill clay liner dan masing-masing memiliki ketentuan khusus sesuai dengan limbah B3 yang ditimbun.

Dimulai dari bawah, bagian dasar secured landfill terdiri atas tanah setempat, lapisan dasar, sistem deteksi kebocoran, lapisan tanah penghalang, sistem pengumpulan dan pemindahan lindi (leachate), dan lapisan pelindung. Untuk kasus tertentu, di atas dan/atau di bawah sistem pengumpulan dan pemindahan lindi harus dilapisi geomembran. Sedangkan bagian penutup terdiri dari tanah penutup, tanah tudung penghalang, tudung geomembran, pelapis tudung drainase, dan pelapis tanah untuk tumbuhan dan vegetasi penutup. Secured landfill harus dilapisi sistem pemantauan kualitas air tanah dan air pemukiman di sekitar lokasi agar mengetahui apakah secured landfill bocor atau tidak. Selain itu, lokasi secured landfill tidak boleh dimanfaatkan agar tidak beresiko bagi manusia dan habitat di sekitarnya.

Deep Injection Well. Pembuangan limbah B3 melalui metode ini masih mejadi kontroversi dan masih diperlukan pengkajian yang komprehensif terhadap efek yang mungkin ditimbulkan. Data menunjukkan bahwa pembuatan sumur injeksi di Amerika Serikat paling banyak dilakukan pada tahun 1965-1974 dan hampir tidak ada sumur baru yang dibangun setelah tahun 1980.

Sumur injeksi atau sumur dalam (deep well injection) digunakan di Amerika Serikat sebagai salah satu tempat pembuangan limbah B3 cair (liquid hazardous wastes). Pembuangan limbah ke sumur dalam merupakan suatu usaha membuang limbah B3 ke dalam formasi geologi yang berada jauh di bawah permukaan bumi yang memiliki kemampuan mengikat limbah, sama halnya formasi tersebut memiliki kemampuan menyimpan cadangan minyak dan gas bumi. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pemilihan tempat ialah strktur dan kestabilan geologi serta hidrogeologi wilayah setempat.

Limbah B3 diinjeksikan se dalam suatu formasi berpori yang berada jauh di bawah lapisan yang mengandung air tanah. Di antara lapisan tersebut harus terdapat lapisan impermeable seperti shale atau tanah liat yang cukup tebal sehingga cairan limbah tidak dapat bermigrasi. Kedalaman sumur ini sekitar 0,5 hingga 2 mil dari permukaan tanah.

Tidak semua jenis limbah B3 dapat dibuang dalam sumur injeksi karena beberapa jenis limbah dapat mengakibatkan gangguan dan kerusakan pada sumur dan formasi penerima limbah. Hal tersebut dapat dihindari dengan tidak memasukkan limbah yang dapat mengalami presipitasi, memiliki partikel padatan, dapat membentuk emulsi, bersifat asam kuat atau basa kuat, bersifat aktif secara kimia, dan memiliki densitas dan viskositas yang lebih rendah daripada cairan alami dalam formasi geologi.

Hingga saat ini di Indonesia belum ada ketentuan mengenai pembuangan limbah B3 ke sumur dalam (deep injection well). Ketentuan yang ada mengenai hal ini ditetapkan oleh Amerika Serikat dan dalam ketentuan itu disebutkah bahwa:

  1. Dalam kurun waktu 10.000 tahun, limbah B3 tidak boleh bermigrasi secara vertikal keluar dari zona injeksi atau secara lateral ke titik temu dengan sumber air tanah.
  2. Sebelum limbah yang diinjeksikan bermigrasi dalam arah seperti disebutkan di atas, limbah telah mengalami perubahan higga tidak lagi bersifat berbahaya dan beracun.

Referensi: Pengelolaan Limbah Industri – Prof. Tjandra Setiadi, Wikipedia, US EPA

sumber : http://majarimagazine.com


Hello world!

August 22, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.